1.
PENGEMBANGAN BERAS ORGANIK
Sejak tahun 2001 pemkab Sragen telah merintis pertanian yang berbasis organik yang hingga sekarang masih terus eksis terutama untuk beras organik yang mampu menembus pasar kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Purwokerto dll. Beras organik dibudidayakan dengan luas panen padi organik tahun 2006 yaitu 3.256,77 Ha dengan produksi 19.439,78 ton/tahun. Jenis padi organik yang diproduksi Kabupaten Sragen sangat beragam mulai dari IR-64, Mentik Wangi, hingga Beras Merah.
Seiring dengan semakin banyaknya masyarakat yang sadar akan pentingnya kesehatan maka tak heran kalau permintaan beras organik terus mengalami peningkatan. Peluang bisnis di bidang beras organik masih terbuka lebar. Apalagi pemain beras organik di Indonesia masih sangat terbatas, tidak lebih dari 20 pengusaha. Oleh sebab itu usaha beras organik di Sragen memiliki prospek keuntungan yang bagus, sementara tren konsumsi beras organik di Indonesia belakangan ini terus meningkat. Sebagai ilustrasi awal, jumlah warga menengah ke atas di negeri ini berkisar 10 persen dari 220 juta penduduk Indonesia secara keseluruhan. Ini berarti terdapat 2,2 juta konsumen potensial beras organik. Padahal, produsen beras organik yang ada di Indonesia kini baru melayani tak lebih dari 15 persen dari jumlah konsumen potensial tersebut
2. PENGEMBANGAN TANAMAN BUAH
Tanaman buah yang bisa dikembangkan di daerah Sragen diantaranya Jeruk (citrus sinensis), Jeruk Besar (citrus celebia), Buah Naga dan Kelengkeng.
Hasil budidaya tanaman jeruk besar ini sangat menjanjikan. Daerah pengembangnya adalah Kecamatan Plupuh dan Kalijambe. Di desa Wonorejo, Kalijambe terdapat kurang lebih 30 petani yang telah mengembangkan tanaman ini sedangkan di desa Keden ada sekitar 132 petani. Jeruk Besar juga dikembangkan di desa Bukuran, Kalijambe dengan areal lahan seluas 50 Ha. Hal ini tentu saja mendatangkan peluang investasi tersendiri bagi para investor untuk pengembangan lebih lanjut.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), keragaman ekspor-impor buah-buahan di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini kurang mengembirakan, yaitu dengan adanya lonjakan impor buah-buahan yang tidak diimbangi dengan expor. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, diperkirakan dapat mengakibatkan impor jeruk semakin meningkat jika tidak diimbangi dengan perluasan tanaman.
Selain jeruk, tanaman yang mempunyai peluang dan prospek pengembangan bagus di Sragen adalah kelengkeng. Saat ini belum ada perkebunan jeruk dan kelengkeng di Kabupaten Sragen, bahkan di propinsi Jawa Tengah saja tingkat produksi untuk kedua jenis buah tersebut masih sedikit. Pada tahun 2001, jumlah produksi jeruk di Prop. Jawa Tengah hanya mencapai 12% dari produksi jeruk di Indonesia.
3. BUDIDAYA GARUT
Tanaman garut merupakan tanaman jenis umbi-umbian yang banyak mengandung karbohidrat dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan alternatif. Lahan tanaman garut di kabupaten Sragen seluas 385 hektar di wilayah kecamatan Gesi, Sukodono, dan Jenar. Kapasitas produksi budidaya tanaman garut ini rata rata sebesar 8 ton/hektar atau 3.080 ton sekali panen. Sedangkan kapasitas produksi garut berupa umbi sebesar 360ton/th, tepung garut 72 ton/th dan emping garut 36 ton/th.
Tanaman garut, telah dicanangkan Pemerintah sebagai salah satu komoditas bahan pangan yang memperoleh prioritas untuk dikembangkan/dibudidayakan karena memiliki potensi sebagai pengganti tepung terigu. Demikian pula di Kabupaten Sragen. Dengan dikeluarkannya SK Bupati Sragen Nomor 500/113/03/2003 tentang ditetapkannya garut sebagai salah satu produk unggulan Sragen maka garut dikembangan secara diintensif mulai dari budidaya, pasca panen, pengolahan, pengemasan hingga pemasarannya. Saat ini produk olahan garut Kabupaten Sragen telah menembus pasar Ngawi, Madiun, Semarang, Solo, Yogyakarta
4. BUDIDAYA TEMBAKAU VIRGINIA
Tembakau Virginia merupakan bahan bakar rokok putih yang saat ini penanamannya sedang digalakan dibeberapa wilayah di Jawa Tengah diantaranya Kabupaten Sragen. Tembakau Virginia mempunyai peranan penting dan keunggulan dibidang produksi. Kualitas yang dihasilkan tahan terhadap penyakit Mosaic. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia telah menjalin kemitraan dengan beberapa petani tembakau di daerah dengan menyediakan bibit dan obat-obatan. Kemudian hasil panen yang ada dibeli dengan harga yang cukup kompetitif berkisar antara Rp 19.000 - 30.000/kilogram.
Sementara ini penanaman tembakau Virginia mencakup wilayah Mondokan, Sumberlawang, Gemolong dan Miri dengan jumlah produksi di Mondokan = 15,012 (83.92%), Sumberlawang = 20,105 (84.34%), Gemolong = 20,007 (82.82%), Miri = 14,585 (83.96%). Mengingat prospek bisnis yang menjanjikan dari Tembakau Virginia dan ketersediaan areal lahan yang cukup luas maka terbuka peluang investasi untuk mengembangkan tanaman ini lebih lanjut di Kabupaten Sragen.
5. BUDIDAYA TANAMAN BUAH NAGA SUPERRED
|