Gunung Bromo. Siapa yang tidak kepincut dengan kemegahan mahakarya sang Pencipta ini. Eksotisme dan keindahan panorama yang ditawarkan sanggup menghipnotis siapa saja untuk mengunjungi obyek wisata di Jawa Timur, yang terletak dalam lingkaran 4 wilayah yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Status Gunung Bromo yang merupakan gunung berapi aktif semakin mengukuhkan eksistensinya sebagai daerah tujuan wisata populer hingga saat ini.

Pesona dan keunikan gunung yang memiliki ketinggian 2.392 meter diatas permukaan laut ini rupanya memicu antusiasme para pegawai BPT Sragen untuk berwisata sembari menikmati kecantikan sunrise view dari puncak Bromo. Rasa penasaran pun segera terpungkasi dengan adanya event refreshing yang dihelat BPT Sragen selama dua hari (13-14 Februari 2010). Rekreasi yang diikuti oleh seluruh karyawan/karyawati BPT ini bertolak dari halaman Setda kabupaten Sragen tepat pukul 13.00 wib. Kartika tour dipercaya memandu rombongan selama dalam perjalanan.
Keceriaan telah terasa saat bus bergerak meninggalkan bumi Sukowati tercinta. Tak ketinggalan, ajang olah vokal melalui vcd karaoke pun digelar dan terbukti ampuh membalut hangatnya suasana. Bus ”Subur Jaya” yang membawa rombongan terasa begitu nyaman. Dilengkapi dengan 8 unit televisi sebagai fasilitas hiburan plus satu set perlengkapan istirahat semakin membangkitkan gairah peserta tour untuk menikmati perjalanan.
Rute pertama yang dilalui sebelum menuju ke Bromo adalah jembatan nasional megah dan fenomenal, Suramadu. Dengan panjang 5.438 m, Suramadu merupakan jembatan terpanjang di Indonesia yang melintasi Selat Madura serta menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan, tepatnya timur Kamal), Indonesia.

Pembangunan jembatan Suramadu ini diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003 dan akhirnya pada tanggal 10 Juni 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka secara resmi jembatan yang menelan dana 4,5 triliun ini. Jembatan Suromadu terdiri dari tiga bagian yaitu jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge). Suasana Suramadu semakin indah memikat di malam hari. Berhias lampu-lampu yang berpijar di sisi-sisi jembatan, kemolekan Suramadu semakin harmonis berpadu dengan kelap-kelip lampu dari kapal dan perahu yang sedang melintasi selat Madura.
 
Rombongan mampir sejenak di ranah Madura untuk membeli souvenir khas pulau garam yakni barang-barang yang dibuat oleh penduduk setempat, misalnya gantungan kunci, senjata tradisional (celurit), pecut, odeng, batik, seni ukir kayu, dan lain sebagainya.
Usai menikmati nuansa romantis Suramadu di malam hari, perjalanan pun dilanjutkan ke obyek berikutnya, yakni makam Sunan Ampel. Kawasan wisata religi ini terletak di Surabaya, Jawa Timur. Terlihat banyak sekali peziarah dari berbagai daerah yang berkunjung ke makam Raden Muhammad Ali Rahmatullah (Sunan Ampel). Untuk mencapai makam, rombongan harus melewati sembilan gapura, sesuai arah mata angin, sebagai simbol eksistensi wali songo atau sembilan wali. Tiga gapura merupakan bangunan asli peninggalan Sunan Ampel. Di kompleks ini juga terdapat beberapa makam antara lain makam Nyai Condrowati (istri Sunan Ampel yang merupakan keturunan Raja Brawijaya Lima), makam para pengawal dan pengikut, makam Mbah Soleh (konon Mbah Soleh meninggal sembilan kali sehingga makamnya berjumlah sembilan), makam mbah Bolong (bernama asli Sonhaji yang sangat ahli dalam menentukan mata angin sebagai pedoman arah kiblat). Keunikan dan nilai sejarah mesjid ini terletak pada 16 tiang penyangganya yang terbuat dari kayu jati berukuran 17 meter tanpa sambungan.Tiang penyangga ini hingga kini masih kokoh, padahal umurnya sudah lebih dari 600 tahun. Di tempat ini juga terdapat sumur bersejarah. Namun kini sudah ditutup dengan besi. Konon, air sumur ini dipercaya memiliki kelebihan seperti air zamzam di Mekkah. Khasiatnya beragam, diantaranya dipercaya dapat menjadi obat. Tak heran jika para peziarah sering membawa air ini sebagai oleh-oleh.
Tepat pukul 21.00, bus melaju meninggalkan semaraknya malam kota Surabaya menuju ke Bromo. Perjalanan yang menempuh waktu selama empat jam dirasa cukup bagi peserta tuk sejenak melepaskan penat dan beristirahat me-recharge tenaga. Pukul 01.00 dinihari, Indah (tour guide) menginformasikan bahwa rombongan telah memasuki areal hotel Panorama. Suasana malam yang dingin sedikit menghangat saat secangkir teh panas dan camilan terhidang. Momen ’cofee break’ berjalan cukup singkat karena peserta harus bersiap melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Ajang ganti kostum pun dimulai. Mengingat suhu Gunung Bromo yang dingin mencapai 10 derajat bahkan hingga 0 derajat Celcius, rombongan pun mempersiapkan diri dengan pakaian pendukung seperti jaket tebal, topi, sarung tangan, kaos kaki, dan syal. Setelah semuanya siap dengan pakaian tempur, rombongan yang telah dibagi menjadi 3 kelompok ini segera memasuki armada lain yang telah dipersiapkan (colt) untuk melanjutkan perjalanan ke gunung Bromo. Selama dua jam rombongan terguncang-guncang karena medan menuju obyek wisata begitu berliku.
Tujuan utama adalah Pananjakan, kawasan tertinggi di area Gunung Bromo. Lukisan alam yang indah saat matahari terbit merupakan fenomena yang selalu dinanti para wisatawan. Buktinya, para pengunjung rela menunggu sejak pukul 5 pagi agar tidak kehilangan moment ini Disekitar Pananjakan terdapat banyak warung yang menyediakan teh ataupun kopi panas serta api unggun untuk menghangatkan tubuh sambil menunggu sang fajar menyembul dari ufuk timur. Banyak juga para penduduk setempat yang menyewakan pakaian hangat.
Setelah menikmati pagi yang indah, rombongan melanjutkan wisata ke kawah dan lautan pasir Bromo. Para karyawan BPT sejenak merasakan sport jantung karena medan yang semakin curam, terjal dan berkelok-kelok. Pengemudi colt dengan lincah meliuk-liukkan mobil guna menaklukkan tikungan yang berbatu. Beberapa karyawan sampai memejamkan mata dan terus berdoa ditengah adrenalin yang terus berpacu. Sinar men tari yang cerah mengiringi rombongan yang akhirnya tiba di lautan pasir. Kawasan seluas 10 km² ini merupakan daerah yang gersang yang dipenuhi pasir dan hanya ditumbuhi rumput yang mengering. Untuk mencapai kaki Gunung Bromo, kita tidak dapat menggunakan kendaraan. Karena beberapa peserta tidak kuat berjalan kaki, maka menyewa kuda adalah solusi yang tepat. Cukup merogoh kocek Rp.50.000, kita sudah sampai ditempat tujuan. Sinar matahari yang terik, jarak yang jauh, debu yang berterbangan dapat membuat perjalanan semakin menantang namun tetap mengasyikkan. Petualangan belum selesai sampai disini. Masih ada 250 anak tangga yang harus dilalui agar dapat melihat kawah Gunung Bromo. Sesampainya di puncak Bromo yang tingginya 2.392 m dari permukaan laut, kita dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap. Jika pandangan kita layangkan kebawah maka terlihatlah lautan pasir dengan pura di tengah-tengahnya. Wonderful! Pemandangan yang sangat langka dan luar biasa. Anugerah alam nan menakjubkan yang dapat dinikmati bersama.
Dahsyatnya pesona Gunung Bromo pun terpaksa diakhiri karena masih ada dua obyek lagi yang telah menanti untuk dikunjungi, yakni Pondok Pesantren Salafiyah Malang dan BNS (Batu Night Spectacular). Setelah berfoto-foto dan menikmati jajanan khas Gunung Bromo, rombongan segera memasuki armada untuk kembali ke hotel Panorama. Beberapa peserta nampak menjinjing tas berisi T-Shirt cantik bergambar gunung Bromo sebagai oleh-oleh untuk keluarga dirumah.



Rintik hujan di sore hari mewarnai kedatangan punggawa BPT Sragen ke tujuan wis ata berikutnya, Ponpes Salafiyah Malang. Bangunan yang terletak di Desa Sananrejo, Turen, Malang ini merupakan pondok milik pribadi, tetapi pemanfaatannya untuk umat. Dengan lahan seluas 4 hektar dan didukung design arsitektur yang luar biasa indah, ponpes Salafiyah terlihat megah dan mewah.
Pondok yang didirikan oleh KH. Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rahmat Alam, sering disebut dengan Romo Kyai Ahmad, memiliki tujuan mulia bagi para santrinya yakni selain sebagai sarana/media/alat untuk membersihkan hati agar timbul rasa cinta dan kedekatan kepada Allah, pembangunan ponpes Salafiyah juga bertujuan untuk meningkatkan iman, membersihkan hati, dan membangun akhlakul karimah berdasarkan Al-Quran dan Hadist. Pembangunan tanpa henti yang berlangsung ditengah kondisi bangunan yang sudah begitu megah menimbulkan pertanyaan, dari mana sumber dana berasal ? ternyata dana utamanya berasal dari Romo Kyai Ahmad sendiri dan sebagian berasal dari jamaah. Prinsip dalam hal pendanaan yakni tidak minta-minta, tidak toma’ dan tidak pinjam/hutang.
 
Setelah puas mengagumi keunikan dan kemegahan ponpes yang dibangun pada tahun 1963 dan masih berjalan hingga kini, rombongan pun kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan wisata terakhir yakni BNS Malang.
Batu Night Spectacularadalah sebuah wahana rekreasi keluarga yang berdiri kokoh di Kota Batu, tepatnya berada pada jarak kurang lebih 30 kilometer sebelah barat Kota Malang. Sesuai makna leksikal yang terkandung didalamnya, Batu Night Spectacular (BNS) merupakan sebuah tempat wisata keluarga yang hanya dapat dinikmati malam hari, mulai pukul 15:00 WIB sampai dengan 02:00 WIB. Didirikannya wahana BNS merupakan salah satu alternatif untuk melepaskan penat dari beban rutinitas kerja atau kegiatan lain yang telah dilakukan pada siang hari. Tidak berlebihan jika BNS disebut sebagai sebagai satu-satunya tempat rekreasi keluarga yang dapat dinikmati pada malam hari untuk seputaran kota Malang, karena disini tersedia banyak permainan yang bisa dinikmati oleh pengunjung dari segala umur dengan tiket masuk yang terjangkau.
Setelah memasuki area utama BNS, rombongan BPT segera menuju food court untuk menikmati makan malam bersama. Panitia membagikan food card kepada para peserta. Card yang fisiknya serupa kartu ATM ini berisi deposit uang. Penggunannya cukup mudah, tinggal diserahkan saja ke petugas counter makanan/ minuman untuk digesek ke mesin otomatis. Maka, saldo kita akan berkurang sebesar harga makanan dan minuman yang kita beli. Praktis bukan?.
Di dalam kawasan food court terdapat air mancur menari yang sangat spektakuler, berada didepan panggung. Keunikan tesebut mengiringi para musisi (home band) yang mengisi acara secara reguler. Kebetulan kunjungan ke BNS bertepatan dengan hari Valentine. BNS pun turut merayakan hari kasih sayang sedunia itu dengan menghadirkan kuis Pick Me Out, sebuah ajang ‘cari jodoh’ yang diadopsi dari reality show fenomenal ’Take Me Out Indonesia’. Di depan food court, terdapat kumpulan kios yang menjual aneka macam souvenir, pakaian, dan makanan khas Batu dengan harga yang cukup terjangkau.
Pemandangan dari BNS ke arah timur atau ke kota Malang juga tidak kalah cantiknya. Kelap-kelip lampu warna-warni berpendar begitu nyata dari udara apabila kita mencoba permainan sepeda udara, dimana pengunjung harus mengayuh sepeda diatas sebuah lintasan yang mempunyai titik tertinggi sekitar 12-13 meter dari permukaan tanah. Dari sep eda udara ini, kita juga dapat menikmati pemandangan hampir seluruh areal BNS termasuk melintasi persis diatas arena gokart dan rumah lampion. Bagi penyuka olahraga otomotif, di BNS juga tersedia sirkuit yang dapat digunakan untuk adu -gokart, drag race atau mencoba keahlian berkendara dengan mencoba mengikuti slalom.
Terobsesi menjadi sang pemburu hantu ??? jangan kuatir BNS menyediakan 3 tempat yang bertema horor, yaitu Galeri Hantu, Kereta Hantu dan Cafe Hantu. Pada Galeri Hantu, maka pengunjung harus jalan kaki dan melalui jalan gelap dan berliku untuk mendapat banyak kejutan didalamnya. Kereta Hantu adalah sebuah petulangan horor yang unik, dimana pengunjung akan dibawa masuk pada lorong-lorong gelap dengan naik kereta dan diwajibkan untuk menembak para hantu yang banyak berkeliaran dan mencoba menakuti.
Tak terasa jarum jam meringsek menuju angka 9 malam. Itu artinya, rombongan sudah harus meninggalkan kemeriahan wahana BNS untuk melanjutkan perjalanan kembali ke kampung halaman, Sragen. Gurat kelelahan pun mulai nampak, namu raut kebahagiaan tetap dominan di wajah peserta tour kali ini. Sungguh perjalanan yang mengesankan. Semoga momen ini bisa menjadi kenangan terindah.
(Humas BPT Sragen/ neidna) |